Sabtu, 04 Februari 2012

KI AGENG SELO DAN PETIR

Naskah Pentas: Kajitow Rl-kayeni

Aktor: 
Ki Ageng Selo
Petir
Prajurit 1
Sultan Demak
Penasehat 1
(peran tambahan)

Adegan I

(Narasi sebelum drama dimulai) Dusun Selo yang unik dengan kesederhanaannya. Tempat yang dulu hanyalah tanah gersang yang dihuni beberapa kepala keluarga kini telah berubah menjadi ramai. Semua itu berkat pengaruh Ki Ageng Selo yang memiliki kesaktian tinggi. Tersebutlah beberapa muridnya menjadi ksatria yang disegani, termasuk Mas Karebet atau Joko Tingkir. Sebagai seorang guru ilmu kanuragan dan kebatinan yang sakti mandra guna, Ki Ageng tidaklah ingin melebih-lebihkan kemampuannya. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, cicit Prabu Brawijaya itu lebih tampak sebagai petani biasa yang tekun menggarap sawahnya. Begitulah kerendahan hati Ki Ageng Selo. Pengaruhnya yang kuat tidak membuatnya lupa diri dan jumawa.

Seperti kebiasaannya setiap hari, Ki Ageng tetap pergi ke sawah meski cuaca sedang tidak bersahabat. Selama berhari-hari hujan terus saja turun diiringi petir dan guruh yang menggila. Aneh sekali prilaku petir itu, biasanya kejadian petir menyambar hanya terjadi sekali pada pohon yang tinggi. Itu pun jarang sekali terjadi. Tapi kali ini tidak hanya di sawah, rumah-rumah penduduk pun ada yang tersambar.

(efek lampu yang menyorot seorang aktor maju ke tengah panggung dan memakai atribut petani lengkap dengan cangkul)

(efek petir dan suara guntur)

Ki Ageng Selo: (Terhenyak dan berhenti mencangkul, tiba-tiba petir dengan cepat menyambarnya.)

(narasi) Orang orang di dusun berhamburan keluar rumah begitu suara gelegar itu berhenti. Mereka segera tahu jika petir itu menyambar seorang yang paling disegani di dusun Selo. Ki Ageng Selo, tokoh sakti yang sendirian di tengah amukan hujan guntur. Tapi bukan Ki Ageng Selo jika hangus tersambar petir. Bahkan di tengah sawah itu dia sedang bergulat mencengkeram petir yang bergerak-gerak menyambar-nyambar dengan hebat. Pakaiannya compang-camping tersengat petir itu. Capingnya telah terpelanting jauh dari kepalanya. Tanah sawah yang menopang tubuhnya membentuk kawah lebar. Pohon-pohon di pematang besar tersibak daunnya. Begitu juga dengan angin yang berkesiur menderu di areal persawahan.

 (efek petir dan guntur)

Ki Ageng Selo: “La haula wala quwwata illa billah... apa maumu wahai petir? Kenapa kau membuat desa ini kacau!?” (terus mencengkeram petir yang bergolak tak menentu itu. Mantra terus dirapalnya untuk melemahkan petir tersebut.)

(Setelah seluruh daya terkuras, petir itu menjelma seorang kakek tua dengan sorot mata menyala-nyala. Ki Ageng Selo tidak terpengaruh dengan jelmaan itu. Pandangannya menerobos tubuh tua yang sedang dicekal lehernya itu.)

Petir: “Aku diperintah untuk demikian. Bukan urusanmu menanyakannya!” (dengan suara serak dan berat)

Ki Ageng Selo: “Jumawa!” (pandangan melotot, roman merah)

Petir: “Memang apa yang bisa kau lakukan, ha!? Manusia hanya mementingkan dirinya dan tidak mau ingat pada nikmat Tuhannya.” (diam sejenak) 

Ki Ageng Selo: “Ada manusia baik dan ada yang jahat. Tidak berarti yang baik harus ikut dihukum bersama yang jahat.”

Petir: “Terserah.”

Ki Ageng Selo: (tampak sedang berpikir) “Baiklah, akan kuserahkan kau ke Demak Bintoro untuk diadili.”

Petir: “Apa!?

Ki Ageng Selo: “Iya, Demak Bintoro.” (tersenyum mengejek petir)

Petir: (tertawa keras) “Bukankah engkau menaruh dendam pada mereka?”

Ki Ageng Selo: “Kau akan segera tahu. Kehadiranmu adalah tanda yang sudah lama aku tunggu.”

Petir: (diam dan memandang Ki Ageng Selo dengan pandangan mata menyala. )


Adegan II

(lampu menyala, muncul ki ageng selo, dan beberapa orang dari kesultanan Demak Bintoro)

Prajurit 1: “Kau siapa? Mahluk apa in-ni?” (suaranya gemetar dan ketakutan melihat petir yang telah menjelma menjadi sosok tua yang aneh)

Ki Ageng Selo: “Aku Ki Ngabdurahman dari Selo.” (diam sejenak dan menoleh ke arah sosok tua jelmaan petir) “Ini jelmaan petir yang aku tangkap karena mengacau di dusun Selo.

Prajurit 1: “Kau!?” (mencoba berpikir keras) “Kau yang dulu membunuh banteng dalam pendaftaran prajurit itu ya?” (ketakutan.)

Ki ageng Selo: “Iya.”

Prajurit 1: “Apa kau ingin mengacau di sini?” (panik dan menggenggam erat-erat tombaknya.)

Kia ageng Selo: “Tidak. Sampaikan pada Sultan, Petir ini aku persembahkan sebagai tawanan.”

(beberapa prajurit berbisik-bisik. Prajurit 1 masuk ke dalam kerajaan.)


Adegan III


(lampu kembali menyala, beberapa orang muncul)

Prajurit 1: “Hamba ingin melapor Paduka.”

Sultan Demak: “Ada apa prajurit?”

Prajurit 1: “Di luar ada Ki Ngabdurahman dari Selo. Datang ke Demak untuk mempersembahkan mahluk yang dikatakannya jelmaan dari petir.”

Sultan Demak: (kaget, dia berdiri dari kursi singgasananya. Bergumam) “Inikah pertanda dari permulaan munculnya trah Brawijaya itu? Inikah tanda akan segera berdiri Kerajaan Mataram baru?”

Penasehat 1: “Jangan Takut Kanjeng Sultan. Sebaiknya beliau disambut dengan baik sebagai tamu Sultan. Jika memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa maka itulah yang akan terjadi kelak.”

Sultan Demak: (merenung sejenak. Kemudian menghadap pada penasehat.) “Apakah semua ini akan berakhir sekarang Sunan? Apakah kerajaanku ini akan hancur?”

Penasehat 1: “Tidak Sultan, Ki Ageng Selo hanya membawa bibit Keprabon. Keturunannya kelak yang akan menjadi penguasa tanah jawa.”

Sultan Demak: (kembali duduk di kursi singgasana. Wajahnya lesu.) “Baiklah, kita akan menyambutnya.”


Adegan IV


(lampu menyala. Beberapa orang keluar ruangan menemui ki ageng selo)

Ki Ageng Selo: “Maafkan saya Kanjeng Sultan, ini saya bawa tawanan yang mengacau di dusun hamba.”

Sultan Demak: (tersenyum getir, merasa bersalah dan malu melihat kesaktian ki ageng selo.) “Saya meminta maaf pada Ki Ageng karena dulu pernah menolakmu menjadi prajurit Demak Bintoro. Semoga ini tidak menumbuhkan dendam di antara kita.”

Ki ageng Selo: “Hamba bukan pendedam Kanjeng, beginilah mungkin kehendak Gusti Allah. Hamba bahagia menjadi seorang petani.”

Sultan Demak: “Baiklah, saya akan mengurung petir ini agar tidak mengganggu rakyat.” (diam sejenak, menoleh ke belakang.) “Prajurit, cari orang untuk menggambar wujud petir ini, lalu ukirlah di pintu masuk Masjid Agung untuk mengenang jasa Ki Ageng Selo.”

(petir itu berubah-ubah wujud. Semua orang keheranan. Masuklah nenek tua membawa air dalam kendi dan menyiramkan ke sosok yang berubah-ubah bentuk itu. Kerangkeng meledak. Sosok petir dan nenek tua lenyap.)

(lampu padam)

Selesai.

Sabtu, 26 November 2011

ASPIRASI, KONSPIRASI, DAN KONTRADIKSI

(Sebuah Puisi yang Ditulis oleh Jurnalis Hati Nurani)

Hati Nurani, secara khusus ditugasi untuk meliput pemilihan rektor Universitas Jambi yanag baru-baru ini terselenggara pada sidang Rapat Tertutup Senat Universitas yang dihadiri wakil menteri . Meski  sidang berlangsung tertutup, tidak berarti segala hal lantas dapat ditutupi. Hal yang menarik saat pemilihan rektor baru di Kampus Pinang Masak ini ialah persoalan aspirasi, konspirasi, dan kontradiksi. Bagaimanakah hal ini dapat kita pakai sebagai refleksi dan referensi kehidupan akademis yang dinamis, sehat, dan dijadikan dambaan semua unsur Tri Dharma Perguruan Tinggi, sebagai pilar-pilar yang kokoh tak tergoyahkan untuk meraih peradaban?  Inilah liputannya.

Pemilihan rektor  digelar di ruang rapat senat.  Rapat dinyatakan tertutup untuk menutupi wajah kebenaran dan wajah kewajaran  dengan wajah kepalsuan. Melalui layar lebar yang dibentang di luar ruang, saat layar putih bergetar ditampar oleh angin, terlihat dengan jelas wajah Kebenaran dan kewajaran tersembunyi  di ruang mimpi, penuh misteri, dan ditutupi oleh gelora ambisi untuk duduk di atas kursi.  Aspirasi  nguap akibat konspirasi  suara menteri  hingga muncullah apa yang disebut kontradiksi.

Aspirasi yang begitu kuat diam-diam dilenyapkan oleh jaring laba-laba yang dibangun di atas neraca rugi-laba, jurnal-jurnal kepentingan, dan buletin yang mewartakan tentang rektor baru. Rektor baru  dipilih dengan suara palsu, suara minor, dan teror gaya baru: suara wakil menteri  tertuju pada satu nama yang secara faktual mimim pemilih. Rekor baru tercipta sebagai  pemenang yang mengandung kecurangan.

Kontradiksi mewarnai hari-hari. Visi dan misi nyaris tiada arti. Keadilan dan kearifan telah menjadi sesuatu yang mahal, langka, dan teramat sulit menjadi nyata. Birokrasi adalah jaring laba-laba, terentang hanya untuk menangkap mangsa. Siapa pun mendekati jaring laba-laba, akan lekat lalu ditangkap oleh tangan-tangan kekuasaan. Idealisme, aspirasi, sikap ilmiah lalu lenyap.  Di setiap tempat yang ada hanyalah rasa curiga. Tak ada lagi saling tegur sapa berlandaskan cinta. Yang ada ialah kepentingan sesaat yang membuat sesat.

Kertas suara berserakan di ruang sidang. Nurani memunguti kertas-kertas bertuliskan nama-nama di atas cap dan tanda tangan panitia. Kertas-kertas suara itu berbisik, berisik, lalu beterbangan di udara hampa.  Kertas-kertas suara itu lalu kasak-kusuk  membicarakan persoalan konspirasi tingkat tinggi dengan cara lobi, strategi bergerilya untuk menawarkan nama yang hendak dipilih melalui pertemuan demi pertemuan di gelap malam, di rumah-rumah makan, di gedung-gedung kementerian. Sementara bendera almamater merunduk malu di sudut remang.

Di depan gerbang, seekor angsa putih tak letih mengurai buih. Keris Si Ginjai telah lenyap dari paruhnya.  Warga Kampus Pinang Masak sibuk memasak menu makanan yang kelak disajikan di pesta perayaan kemenangan. Kemenangan yang diraih dengan cara-cara yang tidak akademis. Kemenangan yang diraih lebih karena nuansa politis. Tragis. Miris. Nurani teriris-iris. Semua tak lebih serupa strategi teroris yang pelan tetapi pasti akan melumpuhkan segala sendi dan kisi-kisi kehidupan akademis. Keilmuan hanya menjadi impian.  Orang-orang akan menjadi apatis, pragmatis, hedonis, dan menghalalkan segala cara untuk sekedar bertahan dari iklim pancaroba, cuaca buruk, dan badai yang senantiasa mengintai.

Kesadaran harus dibangunkan. Keyakinan harus dijadikan acuan dalam melakukan perubahan. Perubahan yang mengarah pada bangunan mental-spiritual yang kokoh dilandasi oleh idealisme sederhana: berjuang atas dasar cinta. Tak ada kalaah dan menang dalam pemilihaan. Satu hal yang seharusnya lahir dari institusi pendidikan ialah para pemimpin yang mampu memilah dan memilih agenda kerja yang memberikan dampaka nyata. Bukan pemimpin yang pintar memilih kawan, berkolusi, berkonspirasi dengan pertinggi setingkat menteri hanya untuk kepentingan seseorang atau segolongan, melainkan kepentingan peradaban dengan segala kemajuan yang membanggakan.

Tangan-tangan kekuasaan, tangan-tangan kepentingan, dan berjuta tangan  telah menetapkan bahwa tanggyung jawab, perjuangan, dan cinta hendaklah senantiasa dikibarkan. Jangan biarkan bendera almamater merunduk malu di sudut ruang rapat senat. Malu melihat dan mencatat aneka gelaagat yang tersembunyi. Aspirasi saatnya tegak berdiri, melakukan aksi, dan memberikan bukti bahwa institusi pereguruan tinggi semestinya mengamalkan otonomi, bukan intervensi. Institusi perguruan tinggi bukan tempat berkolusi melakukan manipulasi. Nurani akan tetap mengawasi setiap gerak langkah, bahkan niat-niat jahat. Nurani akan terus berjihad melawan segalaa yang bernama kepalsuan, segala upaya menutup wajaah kebenaran, dan selalu menuntut kewajaran.

Mendalo Darat, November 2011

PENERBITAN BUKU PUISI SEBAGAI REAKTUALISASI DAN REPOSISI WACANA PUISI

Salam Puisi

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri (BPSM) merupakan sanggar yang saya rintis selama lebih 25 tahun. Selama beraktivitas, saya menggelinding dan berproses sendiri di tengah arus deras perpuisian Indonesia. Kini, atas permintaan beberapa sahabat, BPSM diniatkan untuk ruang pajang bagi kreasi puisi, ruang ekspresi kreativitas bidang puisi, menyediakan aksesories puisi, dan memaksimalkan kegiatan sanggar penulisan puisi, apresiasi puisi, dan cinta pada puisi.

Siapa pun dapat hadir di BPSM turut berpartisipasi menumbuhkembangkan potensi anak negeri di bidang penulisan kreatif puisi, konsultasi puisi, pemajangan puisi, pemaknaan puisi, dan melakukan inovasi di bidang penulisan kreatif puisi.

Dunia kreativitas penulisan kreatif puisi begitu luas tanpa batas. kreativitas senantiasa menyumbul dan meretas batas-batas yang memungkinkan untuk menemukan gaya pengucapan, pola pengucapan, dan bentuk estetis penulisan puisi. Hal yang terpenting adalah tekun menjalani proses, tanpa harus terburu-buru mencicipi hasil karya. Karya dan kekaryaan di bidang kerativitas penulisan puisi selalu memberikan kemungkinan-kemungkinan yang asyik dan menyenangkan.

 Sebagaimana fungsi bengkel pada umumnya, pada awalnya komunitas ini difungsikan untuk saling bertegur sapa melalui puisi. Setiap hari ada saja yang memposting puisi, lalu warga bengkel meresepsi, menikmati, minimal membaca lalu memberikan komentar sebagai respon. Tak kurang, aroma kritik dan saran mewarnai setiap puisi yang diposting. Semuanya bermuara pada perlunya proses kreatif. Proses kreaatif yang lalu diwadahi melalui Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, pada hakikatnya menyediakan wadah bagi pribadi-pribadi yang mandiri dalam berkarya.

Penerbitan Buku Puisi

Menilik adanya progres dan perkembangan signifikan atas puisi-puisi yang diposting, menjelang akhir tahun 2011 saya sebarkanlah “undangan terbuka” terkaait rencana menerbitkan puisi sebagai agenda tahunan. Buku ini, yang realisasinya memuat keberagaman tema, beragaman asal-usul kreaatornya, perspektif keberagaman pengalaman dan perjalanan kreatifnya, bagaimana pun meninggalkan jejak. Itulah sebabnya, buku antologi ini diberi tajuk “JEJAK SAJAK”. Hal yang perlu dikemukakan terkait dengan penerbitan buiku ini ialah apakah puisi karya generasi kini, yang lebih banyak memposting puisi di dunia maya memiliki sisi komunikasi puitik yang meninggalkan jejak? Sisi komunikasi puitik sebagai “jejak” kreatornya, tentu saja menarik ditilik dari perspektif fungsinya dalam berbagai dimensi kehidupan.

Buku yang sedang dipersiapkan diberi tajuk JEJAK SAJAK. Buku ini rencananya memuat puisi-puisi yang diseleksi oleh Tim Kurator yang independent, bebas dari nuansa pertemanan, kolusi, atau kwdekatan. Tahap pemilihan puisi dilakukan dengan menghilangkan nama penulis dengan maksud agar yang pertama-rtama yang diseleksi ialah puisinya, bukan penyairnya. Kiat ini telah banyak dilakukan untuk menjaga kualitas puisi. Puisi diberikan ruang bebas, tanpa intervensi penjelasan biodata penyairnya. Dengan begitu akan terseleksi puisi-puisi yang memang layak terpajang dalam buku. Tim kurator yang menyeleksi puisi memang dirahasiakan atau tidak diumumkan agar dapat bekerja objektif bersandarkan pada materi puisi. Puisi bagaimana pun juga akan meninggalkan jejak dan pada gilirannya puisi hadir mewakili penyairnya untuk berkomunikasi dengan pembaca. Dalam konteks ini tentu saja, puisi telah menjalankan fungsi komunikatifnya.

Fungsi umum bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Di samping fungsinya yang bersifat umum tersebut, dalam komunikasi puisi bahasa memiliki fungsi-fungsi yang bersifat khusus. Fungsi-fungsi yang bersifat khusus itu tetap merupakan bagian atau aspek fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Fungsi komunikatif “puisi” diasumsikan sama dengan fungsi ba­hasa pada umumnya, meskipun aspek yang dijadikan sasarannya berbeda. Adalah suatu kenyataan bahwa manusia memperguna­kan bahasa sebagai sarana komunikasi. Demikian juga penyair dalam menu­lis puisi pada dasarnya untuk memenuhi keinginan berkomunikasi dengan para pembacanya. Pada satu sisi penyair bertindak selaku penutur dan pada pihak lain pembaca bertindak sebagai mitra tutur. Dalam komunikasi yang wajar dan lancar hubungan antara pembicara dan penyimak terasa se­bagai suatu peristiwa biasa dan wajar.
Fungsi bahasa yang bersifat khusus itu bermacam-macam dan klasifikasinya pun beraneka ragam.

Sejumlah ahli bahasa telah menaruh perhatian besar terhadap fungsi bahasa. Halliday dalam buku berjudul Explorations in the Functions of Language (1973) mengemukakan tujuh fungsi bahasa sebagai berikut: (1) fungsi instrumental (instrumental function), melayani pengelolaan lingkungan, menyebabkan peristiwa-peristiwa tertentu terjadi; (2) fungsi regulasi (the regulatory function), bertindak untuk mengawasi serta mengendalikan peristiwa-peristiwa sehingga muncul ben­tuk-bentuk persetujuan, celaan, keti­daksetujuan, dll.; (3) fungsi pemerian (the representational function), yakni peng­gunaan bahasa untuk membuat pertanyaan-pertanyaan, menyampaikan fakta-fakta, dan pengetahuan, menjelaskan atau melaporkan dengan cara menggambarkan; (4) fungsi interaksi (the interactional function) bertugas untuk menjamin serta meman-tapkan ketahanan dan kelangsungan komunikasi, interaksi sosial; (5) fungsi perorangan (the personal function) memberi kesempatan kepada seseorang pembicara untuk mengekspresikan perasaan, emosi, pribadi, serta reaksi-reaksinya yang mendalam. Kepriba­dian seseorang biasanya ditandai oleh penggunaan fungsi per­sonal bahasanya dalam berko­munikasi dengan orang lain. Dalam konteks ini, kesadaran, perasaan, dan budaya turut bersama-sama dalam in­teraksi; (6) fungsi heuristik (the heuristic function) melibatkan penggunaan ba­hasa untuk memperoleh pengetahuan, mempelajari seluk-beluk lingkungan dengan mengajukan per­tanyaan; dan (7) fungsi imajinatif (the imaginative function) melayani pen­ciptaan sis­tem-sistem atau gagasan-gagasan yang bersifat imajinatif.

Dengan istilah lain, Levinson meminjam pendapat Jakobson (1960) untuk mengungkapkan fungsi ujaran (baca: fungsi komuni­katif bahasa) se­bagai berikut: (1) fungsi referensial, memusatkan perhatian kepada isi acuan sesuatu pesan; (2) fungsi emotif (ekspresif), memusatkan perhatian kepada keadaan sang pem­bicara; (3) fungsi konatif (direktif), memusatkan perhatian kepada keinginan-keinginan sang pembicara untuk dilakukan atau dipikirkan oleh sang penyi­mak; (4) fungsi metalinguistik, memusatkan perhatian kepada sandi atau kode yang dipergunakan; (5) fungsi fatik, memusatkan perhatian kepada saluran; dan (6) fungsi puitik (estetik), memusatkan perhatian kepada bagaimana ca­ranya suatu pesan disandikan atau ditulis dalam sandi. Fungsi emotif dalam terminologi Jacobson identik dengan fungsi ekspresif, fungsi konatif identik dengan fungsi direktif, dan fungsi puitik identik dengan fungsi estetik.

Ahli bahasa yang lain, Finochiaro (1977) membedakan fungsi bahasa menjadi lima kelompok. Kelompok itu adalah sebagai berikut (1) fungsi personal, yakni merupakan fungsi bahasa untuk menyatakan diri, baik berupa pikiran maupun berupa perasaan; (2) fungsi interpersonal, yakni merupakan fungsi yang menyangkut hubungan antarpenutur atau antarpersona untuk menjalin hubungan sosial; (3) fungsi direktif, yakni merupakan fungsi bahasa untuk mengatur orang lain, menyuruh orang lain, memberikan saran untuk melakukan tindakan, atau meminta sesuatu; (4) fungsi referensial, yakni merupakan fungsi bahasa untuk menampilkan suatu referen dengan menggunakan lambang bahasa; dan (5) fungsi imajinatif, yakni merupakan fungsi bahasa untuk menciptakan sesuatu dengan berimajinasi.

Apabila dikaji lebih lanjut, meskipun terdapat beragam pendapat dan klafisikasi fungsi bahasa dari para pakar, dapat dinyatakan bahwa bahasa dalam puisi yang dimuat dalam buku ini berfungsi mengkomunikasikan tiga hal, yakni pikiran, perasaan, dan sikap. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa bahasa dalam kehidupan manusia memiliki fungsi simbolik, emotif, dan afektif. Dengan bahasa manusia hidup dalam dunia pengalaman nyata dan dunia simbolik yang dinyatakan dengan bahasa. Manusia mengatur pengalaman yang nyata ini dengan berorientasi pada dunia simbolik. Selain itu, manusia memberi arti bagi yang indah dalam hidup ini dengan bahasa. Dari sanalah tercipta karya yang mengungkapkan nilai-nilai estetik, antara lain berupa puisi. Akhirnya, secara ringkas dapat dinyatakan bahwa dengan bahasa manusia dapat mengungkapkan pikirannya, mengekspresikan perasaannya, dan menyatakan sikapnya.

Puisi-puisi yang terangkum dalam buku ini dapat diklasifikasikan sebagai puisi yang berpijak di bumi (Indonesia) dan puisi-puisi “melangit”. Sebagian sajak yang digubah oleh penyair terasa mengendap di ruang senyap, tak terjamah pembaca, dan pada akhirnya komunikasi batiniah menjadi sesuatu yang mewah. Dalam “Puisi Langit” secara umum merisalahkan betapa penyair berusaha sangat keras menyibak rahasia Ilahi. Pergumulan kemanusiaan di bumi dan di bawah langit lalu ‘menjeritkan luka mencinta”. Seperti pintu-pintu yang berderit, perlahan terbuka; atau seperti jendela yang terkuak, pembaca buku ini dapat melacak jejak tanda cinta penyairnya dalam bergumul dengan persoalan hidup dan kehidupan di bumi dan mengarah ke ketinggian langit. Selamat membaca dan menikmati gubahan penyair semoga pembaca budiman dapat melacak jejak serta memperoleh hikmah kebaikan.

Demikianlah sekilas gambaran program atau agenda Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, melakukan upoaya secara mandiri, nirlaba, dan memprioritaskan kebersamaan dalam bingkai saling asih, saling asah, dan saling asuh. Terkait dengan hal itu, maka apabila ada pihak yang membrikan support berupa donasi, bantuan moril atau materiil akan diterima dengan segenap cinta.

Salam.


Dimas Arika Mihardja
Direktur Eksekutif

Minggu, 02 Oktober 2011

JENDELA TAWA HERU EMKA: LELAKI DAN GAYA KENCINGNYA


Oleh : Heru Emka

            Percayakah anda bahwa kebiasaan hidup dan perilaku sesorang berkaitan erat dengan kepribadiannya ? Saya sepakat bahwa anda pun sering mengamati kepribadian seseorang dari gaya dan kebiasaan hidup seseorang, misalnya orang yang sering meludah sembarangan berkaitan dengan sikapnya yang semau gue dan cenderung tak perduli dengan keberadaan orang lain.
            Namun, tahukah anda bila gaya dan kebiasaan seseorang bila sedang kencing juga berkaitan erat dengan kepribadiannya. Inilah datanya…dan bila penasaran, cobalah untuk membuktikan kebenarannya…Silakan !


            Lelaki Sopan
            Lelaki yang sopan selalu mengucapkan kata permisi saat membuka pintu toilet, lalu mengangguk sopan kepada closet sebelum mengencinginya. Setelah selesai, dia tak pernah lupa membilas sampai bersih, kemudian mengucapkan kembali terima kasih dan permisi kepada pintu toilet.

            Lelaki Ilmiah
            Lelaki yang ilmiah selalu menuruti naluri kritisnya. Dia selalu kencing dibotol, dan menyimpannya di laboratorium, kemudian dengan cermat air kencingnya diteliti setiap hari  di bawah mikroskop.

            Lelaki Cerdas
            Tipe lelaki cerdas ini cukup gampang dikenali. Perhatikan saja : Dia selalu membawa buku pelajaran, kemudian kencing sambil membaca.

            Lelaki Relijius
            Semoga lelaki relijius ini selalu diberkati oleh Tuhan Yang Maha Esa. . Sebelum kencing dia selalu berdoa, selagi kencing dia menyanyikan lagu-lagu rohani, dan setelah selesai kencing dia kembali berdoa mengucapkan rasa syukur.

            Lelaki Peramah
            Lelaki peramah bila kencing paling senang ngobrol ke kanan-kiri, sampai lelaki yang berdiri di sebelahnya risih dan tak jadi kencing. Yang lebih gila lagi, dia sering mengajak temannya untuk berbondong-bondong kencing bersama.

            Lelaki Penakut
            Lelaki tipe ini pantas dikasihani, karena setiap kali kencing, dia selalu minta ditemani. Sudah begitu,bila kencing tubuhnya selalu gemetaran.

            Lelaki Pemberani
            Dia benar-benar pemberani. Dia tak pernah takut untuk kencing di mana-mana. Tak takut kencing di toilet yang sepi atau di bawah pohon beringin yang seram. Jangankan kencing di tempat yang angker, lelaki pemberani seperti ini bahkan berani kencing di ruang tamu. Juga di celananya sendiri.

            Lelaki Percaya Diri
            Sehabis kencing, burungnya diajak jalan-jalan keluar toiket dan baru dimasukkan kandang setelah menimbulkan kehebohan dan diteriaki satpam.

            Lelaki Pelupa
            Lelaki yang satu ini juga patut dikasihani, karena dia seringkali apes tanpa sengaja. Bayangkan saja : Setiap kali kencing dia membuka kancing baju, mengacungkan dasi dan kencing di celana…

            Lelaki Plin-Plan
            Jenis lelaki seperti ini tak saja merepotkan, namun juga menjengkelkan. Soalnya setiap kali kencing, dia menghadap ke depan, lalu berbalik ke kanan, berbalik ke kiri untuk memudian menghadap ke belakang. Jadinya muncrat ke mana-mana dong…

            Lelaki Perasa
            Anda pasti terkesan bila memergoki jenis lelaki seperti ini : Bila kencing matanya selalu merem-melek sambil bibirnya mendesah-desah

            Lelaki Jorok
            Semoga anda tak bertemu lelaki tak tahu diri seperti ini. Selain kencingnya muncrat kemana-mana, kentutnya keras dan bau, eh malah sekalian buang air besar di celana.

            Lelaki Temperamental
            Lelaki jenis ini sering mengagetkan orang. Suatu saat,dia kencing sambil tertawa terbahak-bahak, dan sesaat berikutnya bisa saja dia menangis tersedu-sedu. Karena itu orang sering mengira jangan-jangan dia gila. Gawat juga ya ?

            Lelaki Dermawan
            Lelaki ini gemar membagi air kencingnya ke mana-mana. Setiap kali bertamu ke tempat orang, dia selalu numpang kencing. Bahkan tak jarang dia menyumbangkan air seninya di mana-mana, dengan kencing di bawah pohon atau di sepanjang tembok di tepi jalan.

            Lelaki Arogan
            Bila kencing, kedua tangannya selalu bertolak pinggang sambil matanya melotot kesana-sini. Walau lagaknya sombong, jangan diambil hati, karena air kencingnya justru muncrat mengotori celananya sendiri

            Lelaki Sial
            Sungguh menyedihkan nasib lelaki seperti ini. Maunya kencing air, tapi yang keluar malah batu. Makanya dia seringkali meringis kesakitan.

            Lelaki Pemabuk
            Setiap kali kencing, dia memegang jempol kiri dengan tangan kanan, lalu koncing di celana

            Lelaki Tolol
            Dia sering dikencingi oleh teman-temannya dan tetap tak perduli sama sekali

            Lelaki Kurang Ajar
            Sungguh amat sangat keterlaluannya : Dia mengencingi bapaknya sendiri

            Lelaki Palsu
            Dia juga sering menimbulkan kegemparan. Walau bentuk tubuh dan KTP-nya jelas lelaki, dia selalu nekad kencing di toilet untuk perempuan

            Lelaki Kurang Kerjaan
            Nah, kalau yang satu ini jenisnya adalah yang terbanyak di dunia. Dan bisa jadi anda adalah tipe lelaki seperti ini. Anda rela membuang waktu anda yang berharga hanya untuk membaca lelucon yang tak bermutu seperti ini.


-          Heru Emka, penyair dan penikmat humor. Tinggal di Semarang –
-          Menulis beberapa buku humor yang ternyata laris manis di pasaran.  -

Jumat, 30 September 2011

PUISIKU MENYUSUP LALU MENYUSU SEBELUM PADA AKHIRNYA MENYUSUT


PUISIKU MENYUSUP LALU MENYUSU SEBELUM PADA AKHIRNYA MENYUSUT

[PUISIKU MENYUSUP)
larut di kedalaman dada laut
gelora-Nya senantiasa menggulung ombak resah
resahku. resah yang membuncah

aku tengadah di bawah rekah bibir-Mu
mendamba dan meminta usapan dan asupan cinta
melaratkan dan mendaratkan harap yang lindap

[LALU MENYUSU]
di geriap ayat-ayat
memaknai segala isyarat
sepanjang riwayat bercinta

aku ingin berlama-lama menyusu
segala yang bernama hakikat dan syariat
lengkap dengan hasrat saling dekap

[PADA AKHIRNYA MENYUSUT]
kembali menjadi remah
mengabu serupa debu
di kaki-Mu


29/09/2011

Minggu, 18 September 2011

INTERMEZO VERSI HERU EMKA


  1. IBU GURU PUNYA DUA

            Di kelas, Ibu Ani sedang mengajarkan Bahasa Inggris kepada murid-muridnya. Dia sedang menjelaskan kata benda ( nouns )  dengan topik bahasan kaki. Di antara murid-muridnya, Agung yang paling lemah dalam mata pelajaran ini, sehingga gurunya harus menjelaskan berulang kali kepadanya. 
            “ Apa artinya foot, Agung ? Masak lupa lagi. Kan ibu sudah berulang kali menjelaskan arti kata benda, atau nouns. Begini saja, sapi punya empat buah benda ini, sedangkan ibu punya dua. Nah apakah itu ?, “ tutur Ibu Ani.
            “ Oh kalau itu saya tahu, bu guru,” jawab Agunga.
            “ Bagus. Coba katakan.”
            “ Tetek bu guru.”

  1. DIPOMPA ANGINNYA

            Roni kecil, yang baru berumur enam tahun, berjalan ke dapur menghampiri mamanya, yang sedang membuat sarapan, lalu berkata,” Mama, kemarin Roni melihat mama sedang berada di atas badan papa, bergerak naik turun.
            “ Mama sedang apa sih ?.”, tanya Roni.
            Kaget juga sang mama mendengar anaknya berkata seperti itu. Namun dia tak kekurangan akal, segera menjawab, “ Oh…itu…Papamu kan sedang masuk angin, jadi mama naik ke atas tubuhnya dan memompa anginnya, agar papamu tidak masuk angin lagi.”
            Si kecil Roni manggut-manggut sambil berkata,” Kasihan papa ya ma, sekarang sering masuk angin. Kemarin Roni juga melihat Tante Nila juga sedang seperti mama, memompa angin dari badan papa.”

  1. TERNYATA PROFESIONAL

            Setelah berkenalan, seorang pemuda segera menjalin kencan dengan perempuan pujaan hatinya. Pucuk dicinta ulam tiba, perempuan itu pun menaruh minat yang serupa.
Mereka segera melewatkan waktu berdua di sebuah taman. Ketika mereka sedang asyiknya bercumbu rayu, si perempuan mendesah, “ Oh mas, ternyata kau sangat berpengalaman…”
            “ Tentu saja dik, ini memang sesuai dengan profesiku,” jawab si pemuda kalem.
            “ Kalau boleh tahu, apakah profesimu ?”
            “ Pemerah susu sapi.”


  1. SEPERTI MENGGENGGAM BURUNG

            Sejak suaminya menjadi general manager, Nyonya Bambang belajar bermain golf, karena isteri direktur lainnya juga sering bermain golf bersama relasinya. Namun agaknya Nyonya Bambang tergolong sebagai perempuan yang hanya bagus bentuk tubuhnya, dan kurang cemerlang kecerdasannya. Sudah dua bulan dia berlatih, namun memegang stick   ( tongkat pemukul )  golf dengan benar pun dia belum bisa.
            Akhirnya (dengan perasaan agak bosan ) pelatihnya berkata ,” Begini saja, nyonya, agar Anda bisa memegang  stick dengan benar, anggap saja Anda sedang menggenggam  barang yang paling Andas sukai, misalnya burung suami Anda. Lalu pukul bola golf yang ada di situ dengan keras. Bisa ?.”
            Nyonya Bambang pun mencoba memegang stick golf tak ubahnya dia ‘memegang’ burung suaminya, lalu memukul bola golf., dan ….wuuuusss….bola golf terbang melayang cukup jauh.
            Melihat hal ini, pelatih bertepuk tangan spontan, lalu berkata,” Yah cukup bagus, tapi Anda harus segera melepaskan stick golf dari mulut Anda.”


  1. IMPROVISASI LEGENDA

            Si Gadis Kecil Bertopi Merah *) akhirnya tak takut lagi pada Serigala yang ingin memangsanya. Dia tak lagi sembunyi-sembunyi, tapi dengan cuek berjalan menuju rumah neneknya di tepi hutan. 

            Tentu saja Serigala yang selalu mengincar gadis cilik itu untuk dimangsa, jadi kegirangan. “ Akhirnya muncul juga kesempatan agar aku bisa memakanmu.”

            “ Makan, makaan melulu yang dipikirkan…Membosankan… Sesekali aku diajak bercinta dong..”, begitu keluh gadis cilik dalam dongeng itu.

            *) Gadis Cilik Bertopi Merah ( Litlle Red Riding Hood )  ini adalah tokoh utama dalam salah satu dongengan Grimm Bersaudara. Dikisahkan ada seorang gadis cilik yang ingin berkunjung ke pondok neneknya di tepi hutan. Padahal seekor serigala buas ingin memangsanya. Berkat kecerdikannya, akhirnya gadis cilik ini berhasil menghindar dari ancaman si buasNah, aku membelokkan kisahnya menjadi humor seperti ini

Diunggah dari rubrik Jendela Tawa Heru Emka, sebuah akunnya di Facebook

Senin, 05 September 2011

MONOLOG DAM


Di kepala saya berparade dan menyumbul keluar aneka jenis karya sastra yang pernah dibaca dan selalu menggoda lantaran pesonanya SENGSARA MEMBAWA NIKMAT, BELENGGU, JALAN TAK ADA UJUNG, SENJA DI JAKARTA, SAMAN, LARUNG, DILARANG MENCINTAI BUNGA-BUNGA, KEMARAU, ZIARAH, KERING, KHOTBAH DI ATAS BUKIT, PADA SEBUAH KAPAL, LELAKI TUA DAN LAUT, BUKAN PASAR MALAM, UPACARA. Novel-novel itu jalan ceritanya, karakternya, alurnya, konflik-konflik yang dibangun, klimaks, antiklimaksnya berdesakan di kepala.

Di kepala lalu menyeruak minta dikuak AZAB DAN SENGSARA, seperti juga 3 penyair TIGA MENGUAK TAKDIR, lalu buku puisi Subagio Sastro Wardoyo DAN KEMATIAN ITU MAKIN AKRAB, novel Muchtar Lubis melintas di JALAN TAK ADA UJUNG, HARIMAUHARIMAU,SENJA DI JAKARTA, lalu terasa dan tersentuh kembali novel Iwan Simatupang KERING, karya-karya Putu Wijaya menyerbu serupa BOM, JANGAN MENANGIS INDONESIA, SUMUR TANPA DASAR, SIKLUS, MACHBETH, ROMEO AND JULIET, ASMARADANA, GATHOLOCO, PARIKSIT, JANGAN BILANG AKU MONYET melintas kumpulan puisi Sapardi Joko Damono HUJAN BULAN JULI, disusul nyanyian Subagio SYIMPHONI terus mengalirkn irama hidupdan berdenyut di rongga kepala, dada,dan segenap rasa.

kepalaku terus diaduk-aduk oleh Hermeneutika, Analisis Wacana Kritis, rancang bangun Strukturalisme, formalisme, semiotik, dekonstruksi, semua serupa alur sorot balik menjadi semacam monolog batin. Aliran kritik sastra dari tradisional hingga posmodernisme. Sosiologi, morfologi, sintaksis, wacana, frasa, kata kata kata kata makna makna makna kata kata kata nilai nilai nilai kata kata kata norma norma norma kata kata kata kaidah estetika. Semua hadir saling desak menendang-nendang dinding kepala, berenang di keluasan dada, lalu jungkir balik meminta dan menuntut dituliskan, meminta dan membujuk dibicarakan, memohon dan meminta diabadikan. Lalu dalam wacana yang aneh aku serupa orang sendiri membaca diri sebagai biografi yang belum berarti apa-apa, kendati harus kutuliskan sebagai satu kesaksian yang sexy:

THE BIOGRAPHY OF DIMAS ARIKA MIHARDJA

Dimas Arika Mihardja is another name for Sudaryono who was born in Jogjakarta on the 3rd of July 1959. Since 1985, he has moved to Jambi and becomes a lecturer at the University of Jambi, Faculty of Teacher Training and Education, Language and Art Department of Indonesian and Local Language. He has obtained the doctoral degree in 2002 with his dessertation “Pasemon dalam Wacana Puisi Indonesia”  that has been rewritten in the form of a book in 2003.   Other poems are compiled in a single anthology such as Sang Guru Sejati (1991), Malin Kundang (1993), Upacara Gerimis (1994), andPotret Diri (2003). Those poems are published by Bengkel Puisi Swadaya Mandiri and Telanai Printing Graft. His other poems are also published by local mass media in Sumatera: Jambi, Padang, Palembang, Lampung, Riau, and Medan; mass media in Java: Surabaya, Malang, Semarang, Jogja, Bandung, and Jakarta. The anthology of poems which collectively written are also available among others: Riak-riak Batanghari (Teater Bohemian, 1988), Nyanyian Kafilah (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1991), Prosesi (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1992), Percik Pesona 1 & 2 (Taman Budaya Jambi, 1992, 1993), Serambi 1,2,3 (Teater Bohemian, 1991, 1992, 1993), Rendezvous (Orbit Poros Lampung (1993), Jejak, Kumpulan Puisi Penyair Sumbagsel (BKKNI-Taman Budaya Jambi, 1993), Luka Liwa (Teater Potlot Palembang, 1993), Muaro  (Taman Budaya Jambi 1994), Pusaran Waktu (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1994), Negeri Bayang-bayang   (Festival Seni Surabaya, 1996), Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ-TIM Jakarta, 1996), Antologi Puisi Indonesia (Angkasa Bandung, 1997), Amsal Sebuah Patung (Yayasan Gunungan Magelang, 1997), Angkatan 2000 dalam Kesusastraan Indonesia(Gramedia, 2000), Kolaborasi Nusantara (KPKPK-Gama Media, 2006), Antologi Puisi Nusantara : 142 Penyair Menuju Bulan (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, 2007), Tanah Pilih (Disbudpar Provinsi Jambi, 2008), Jambi di Mata Sastrawan Bungarampai Puisi (Disbudpar Provinsi Jambi, 2009), Lingua Franca (Antologi TSI III Tanjungpinang), Akulah Musi (Antologi Pertemuan Penyair Nusantara V di Palembang, 2011), Kitab Radja-Ratoe Alit (Antologi Puisi Alit 50 Penyair Indonesia, Kosakatakita, 2011), Beranda Rumah Cinta (Bengkel Puisi Swdaya Mandiri, 2011) and Haiku Danau Angsa (Gramedia Pustaka Utama, 2011).  His novel Catatan Harian Maya or Maya’s Diary is continually published in Harian Jambi Independent (2002). His short stories, essays, and literary criticisms are spread over on newspapers and sciencetific  journals. 

Kepalaku berdenyut dan tak henti-henti menyebut "ya, Allah, jauhkanlah diri ini dari penyakit buruk menggapai hasrat yang tak pernah tua, kesombongan yang kosong, dan hindarkanlah dari jalan yang sesat". Ruang di dadaku bergemuruh seperti lokomotif tua berbahan bakar batu bara, yang asapnya mengepul memenuhi udara. Sementara rel-rel panjang sejajar berdampingan, dingin di malam kelam dan panas ketika siang terik. Pada akhirnya aku menemu tiga kata yang terus menggoda "kamu belum apa-apa", "apakah ada guna menepuk dada?", dan "berkaryalah apa adanya".

Jambi, 6 September 2011