Minggu, 18 September 2011

INTERMEZO VERSI HERU EMKA


  1. IBU GURU PUNYA DUA

            Di kelas, Ibu Ani sedang mengajarkan Bahasa Inggris kepada murid-muridnya. Dia sedang menjelaskan kata benda ( nouns )  dengan topik bahasan kaki. Di antara murid-muridnya, Agung yang paling lemah dalam mata pelajaran ini, sehingga gurunya harus menjelaskan berulang kali kepadanya. 
            “ Apa artinya foot, Agung ? Masak lupa lagi. Kan ibu sudah berulang kali menjelaskan arti kata benda, atau nouns. Begini saja, sapi punya empat buah benda ini, sedangkan ibu punya dua. Nah apakah itu ?, “ tutur Ibu Ani.
            “ Oh kalau itu saya tahu, bu guru,” jawab Agunga.
            “ Bagus. Coba katakan.”
            “ Tetek bu guru.”

  1. DIPOMPA ANGINNYA

            Roni kecil, yang baru berumur enam tahun, berjalan ke dapur menghampiri mamanya, yang sedang membuat sarapan, lalu berkata,” Mama, kemarin Roni melihat mama sedang berada di atas badan papa, bergerak naik turun.
            “ Mama sedang apa sih ?.”, tanya Roni.
            Kaget juga sang mama mendengar anaknya berkata seperti itu. Namun dia tak kekurangan akal, segera menjawab, “ Oh…itu…Papamu kan sedang masuk angin, jadi mama naik ke atas tubuhnya dan memompa anginnya, agar papamu tidak masuk angin lagi.”
            Si kecil Roni manggut-manggut sambil berkata,” Kasihan papa ya ma, sekarang sering masuk angin. Kemarin Roni juga melihat Tante Nila juga sedang seperti mama, memompa angin dari badan papa.”

  1. TERNYATA PROFESIONAL

            Setelah berkenalan, seorang pemuda segera menjalin kencan dengan perempuan pujaan hatinya. Pucuk dicinta ulam tiba, perempuan itu pun menaruh minat yang serupa.
Mereka segera melewatkan waktu berdua di sebuah taman. Ketika mereka sedang asyiknya bercumbu rayu, si perempuan mendesah, “ Oh mas, ternyata kau sangat berpengalaman…”
            “ Tentu saja dik, ini memang sesuai dengan profesiku,” jawab si pemuda kalem.
            “ Kalau boleh tahu, apakah profesimu ?”
            “ Pemerah susu sapi.”


  1. SEPERTI MENGGENGGAM BURUNG

            Sejak suaminya menjadi general manager, Nyonya Bambang belajar bermain golf, karena isteri direktur lainnya juga sering bermain golf bersama relasinya. Namun agaknya Nyonya Bambang tergolong sebagai perempuan yang hanya bagus bentuk tubuhnya, dan kurang cemerlang kecerdasannya. Sudah dua bulan dia berlatih, namun memegang stick   ( tongkat pemukul )  golf dengan benar pun dia belum bisa.
            Akhirnya (dengan perasaan agak bosan ) pelatihnya berkata ,” Begini saja, nyonya, agar Anda bisa memegang  stick dengan benar, anggap saja Anda sedang menggenggam  barang yang paling Andas sukai, misalnya burung suami Anda. Lalu pukul bola golf yang ada di situ dengan keras. Bisa ?.”
            Nyonya Bambang pun mencoba memegang stick golf tak ubahnya dia ‘memegang’ burung suaminya, lalu memukul bola golf., dan ….wuuuusss….bola golf terbang melayang cukup jauh.
            Melihat hal ini, pelatih bertepuk tangan spontan, lalu berkata,” Yah cukup bagus, tapi Anda harus segera melepaskan stick golf dari mulut Anda.”


  1. IMPROVISASI LEGENDA

            Si Gadis Kecil Bertopi Merah *) akhirnya tak takut lagi pada Serigala yang ingin memangsanya. Dia tak lagi sembunyi-sembunyi, tapi dengan cuek berjalan menuju rumah neneknya di tepi hutan. 

            Tentu saja Serigala yang selalu mengincar gadis cilik itu untuk dimangsa, jadi kegirangan. “ Akhirnya muncul juga kesempatan agar aku bisa memakanmu.”

            “ Makan, makaan melulu yang dipikirkan…Membosankan… Sesekali aku diajak bercinta dong..”, begitu keluh gadis cilik dalam dongeng itu.

            *) Gadis Cilik Bertopi Merah ( Litlle Red Riding Hood )  ini adalah tokoh utama dalam salah satu dongengan Grimm Bersaudara. Dikisahkan ada seorang gadis cilik yang ingin berkunjung ke pondok neneknya di tepi hutan. Padahal seekor serigala buas ingin memangsanya. Berkat kecerdikannya, akhirnya gadis cilik ini berhasil menghindar dari ancaman si buasNah, aku membelokkan kisahnya menjadi humor seperti ini

Diunggah dari rubrik Jendela Tawa Heru Emka, sebuah akunnya di Facebook

Tidak ada komentar:

Posting Komentar