Sabtu, 04 Februari 2012

KI AGENG SELO DAN PETIR

Naskah Pentas: Kajitow Rl-kayeni

Aktor: 
Ki Ageng Selo
Petir
Prajurit 1
Sultan Demak
Penasehat 1
(peran tambahan)

Adegan I

(Narasi sebelum drama dimulai) Dusun Selo yang unik dengan kesederhanaannya. Tempat yang dulu hanyalah tanah gersang yang dihuni beberapa kepala keluarga kini telah berubah menjadi ramai. Semua itu berkat pengaruh Ki Ageng Selo yang memiliki kesaktian tinggi. Tersebutlah beberapa muridnya menjadi ksatria yang disegani, termasuk Mas Karebet atau Joko Tingkir. Sebagai seorang guru ilmu kanuragan dan kebatinan yang sakti mandra guna, Ki Ageng tidaklah ingin melebih-lebihkan kemampuannya. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, cicit Prabu Brawijaya itu lebih tampak sebagai petani biasa yang tekun menggarap sawahnya. Begitulah kerendahan hati Ki Ageng Selo. Pengaruhnya yang kuat tidak membuatnya lupa diri dan jumawa.

Seperti kebiasaannya setiap hari, Ki Ageng tetap pergi ke sawah meski cuaca sedang tidak bersahabat. Selama berhari-hari hujan terus saja turun diiringi petir dan guruh yang menggila. Aneh sekali prilaku petir itu, biasanya kejadian petir menyambar hanya terjadi sekali pada pohon yang tinggi. Itu pun jarang sekali terjadi. Tapi kali ini tidak hanya di sawah, rumah-rumah penduduk pun ada yang tersambar.

(efek lampu yang menyorot seorang aktor maju ke tengah panggung dan memakai atribut petani lengkap dengan cangkul)

(efek petir dan suara guntur)

Ki Ageng Selo: (Terhenyak dan berhenti mencangkul, tiba-tiba petir dengan cepat menyambarnya.)

(narasi) Orang orang di dusun berhamburan keluar rumah begitu suara gelegar itu berhenti. Mereka segera tahu jika petir itu menyambar seorang yang paling disegani di dusun Selo. Ki Ageng Selo, tokoh sakti yang sendirian di tengah amukan hujan guntur. Tapi bukan Ki Ageng Selo jika hangus tersambar petir. Bahkan di tengah sawah itu dia sedang bergulat mencengkeram petir yang bergerak-gerak menyambar-nyambar dengan hebat. Pakaiannya compang-camping tersengat petir itu. Capingnya telah terpelanting jauh dari kepalanya. Tanah sawah yang menopang tubuhnya membentuk kawah lebar. Pohon-pohon di pematang besar tersibak daunnya. Begitu juga dengan angin yang berkesiur menderu di areal persawahan.

 (efek petir dan guntur)

Ki Ageng Selo: “La haula wala quwwata illa billah... apa maumu wahai petir? Kenapa kau membuat desa ini kacau!?” (terus mencengkeram petir yang bergolak tak menentu itu. Mantra terus dirapalnya untuk melemahkan petir tersebut.)

(Setelah seluruh daya terkuras, petir itu menjelma seorang kakek tua dengan sorot mata menyala-nyala. Ki Ageng Selo tidak terpengaruh dengan jelmaan itu. Pandangannya menerobos tubuh tua yang sedang dicekal lehernya itu.)

Petir: “Aku diperintah untuk demikian. Bukan urusanmu menanyakannya!” (dengan suara serak dan berat)

Ki Ageng Selo: “Jumawa!” (pandangan melotot, roman merah)

Petir: “Memang apa yang bisa kau lakukan, ha!? Manusia hanya mementingkan dirinya dan tidak mau ingat pada nikmat Tuhannya.” (diam sejenak) 

Ki Ageng Selo: “Ada manusia baik dan ada yang jahat. Tidak berarti yang baik harus ikut dihukum bersama yang jahat.”

Petir: “Terserah.”

Ki Ageng Selo: (tampak sedang berpikir) “Baiklah, akan kuserahkan kau ke Demak Bintoro untuk diadili.”

Petir: “Apa!?

Ki Ageng Selo: “Iya, Demak Bintoro.” (tersenyum mengejek petir)

Petir: (tertawa keras) “Bukankah engkau menaruh dendam pada mereka?”

Ki Ageng Selo: “Kau akan segera tahu. Kehadiranmu adalah tanda yang sudah lama aku tunggu.”

Petir: (diam dan memandang Ki Ageng Selo dengan pandangan mata menyala. )


Adegan II

(lampu menyala, muncul ki ageng selo, dan beberapa orang dari kesultanan Demak Bintoro)

Prajurit 1: “Kau siapa? Mahluk apa in-ni?” (suaranya gemetar dan ketakutan melihat petir yang telah menjelma menjadi sosok tua yang aneh)

Ki Ageng Selo: “Aku Ki Ngabdurahman dari Selo.” (diam sejenak dan menoleh ke arah sosok tua jelmaan petir) “Ini jelmaan petir yang aku tangkap karena mengacau di dusun Selo.

Prajurit 1: “Kau!?” (mencoba berpikir keras) “Kau yang dulu membunuh banteng dalam pendaftaran prajurit itu ya?” (ketakutan.)

Ki ageng Selo: “Iya.”

Prajurit 1: “Apa kau ingin mengacau di sini?” (panik dan menggenggam erat-erat tombaknya.)

Kia ageng Selo: “Tidak. Sampaikan pada Sultan, Petir ini aku persembahkan sebagai tawanan.”

(beberapa prajurit berbisik-bisik. Prajurit 1 masuk ke dalam kerajaan.)


Adegan III


(lampu kembali menyala, beberapa orang muncul)

Prajurit 1: “Hamba ingin melapor Paduka.”

Sultan Demak: “Ada apa prajurit?”

Prajurit 1: “Di luar ada Ki Ngabdurahman dari Selo. Datang ke Demak untuk mempersembahkan mahluk yang dikatakannya jelmaan dari petir.”

Sultan Demak: (kaget, dia berdiri dari kursi singgasananya. Bergumam) “Inikah pertanda dari permulaan munculnya trah Brawijaya itu? Inikah tanda akan segera berdiri Kerajaan Mataram baru?”

Penasehat 1: “Jangan Takut Kanjeng Sultan. Sebaiknya beliau disambut dengan baik sebagai tamu Sultan. Jika memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa maka itulah yang akan terjadi kelak.”

Sultan Demak: (merenung sejenak. Kemudian menghadap pada penasehat.) “Apakah semua ini akan berakhir sekarang Sunan? Apakah kerajaanku ini akan hancur?”

Penasehat 1: “Tidak Sultan, Ki Ageng Selo hanya membawa bibit Keprabon. Keturunannya kelak yang akan menjadi penguasa tanah jawa.”

Sultan Demak: (kembali duduk di kursi singgasana. Wajahnya lesu.) “Baiklah, kita akan menyambutnya.”


Adegan IV


(lampu menyala. Beberapa orang keluar ruangan menemui ki ageng selo)

Ki Ageng Selo: “Maafkan saya Kanjeng Sultan, ini saya bawa tawanan yang mengacau di dusun hamba.”

Sultan Demak: (tersenyum getir, merasa bersalah dan malu melihat kesaktian ki ageng selo.) “Saya meminta maaf pada Ki Ageng karena dulu pernah menolakmu menjadi prajurit Demak Bintoro. Semoga ini tidak menumbuhkan dendam di antara kita.”

Ki ageng Selo: “Hamba bukan pendedam Kanjeng, beginilah mungkin kehendak Gusti Allah. Hamba bahagia menjadi seorang petani.”

Sultan Demak: “Baiklah, saya akan mengurung petir ini agar tidak mengganggu rakyat.” (diam sejenak, menoleh ke belakang.) “Prajurit, cari orang untuk menggambar wujud petir ini, lalu ukirlah di pintu masuk Masjid Agung untuk mengenang jasa Ki Ageng Selo.”

(petir itu berubah-ubah wujud. Semua orang keheranan. Masuklah nenek tua membawa air dalam kendi dan menyiramkan ke sosok yang berubah-ubah bentuk itu. Kerangkeng meledak. Sosok petir dan nenek tua lenyap.)

(lampu padam)

Selesai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar